[REVIEW FILM] Kim Ji Young, Born 1982

Januari 09, 2020


Sebenanya agak terlambat saya review film ini karena tayang sejak 20 November 2019 lalu. Tapi tetap saja, saya merasa harus menulis sudut pandang saya pribadi tentang film ini, karena inti permasalahan film ini tidak hanya berfokus pada kehidupan ibu rumah tangga tapi juga kaum perempuan.

Film dibuka dengan kegiatan sehari-hari Kim Ji Young (Jung Yu Mi), seorang ibu berusia 30-an yang telah memiliki seorang anak. Darisana saya sudah mulai masuk ke dalam cerita karena kegiatan ibu rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian sangat akrab dengan keseharian saya. Terus, di saat senja, Ji Young suka melamun di balkon apartemen. Saya pikir ini wajar karena ia lelah seharian mengerjakan tugas-tugas rumah, sehingga ia jadi berpikir yang aneh-aneh karena tak ada orang dewasa yang bisa diajak bicara. Walaupun demikian, Ji Young tetap tersenyum di depan Ha Young yang masih balita.

Kim Ji Young, dengan kesehariannya sebagai ibu rumah tangga.


Suami Ji Young, Jung Dae Hyun (Gong Yoo) digambarkan sebagai sosok suami yang nyaris sempurna. Tampan, punya pekerjaan tetap, perhatian pada istri dan humoris membuat Dae Hyun dianggap penyegaran dalam perjalanan alur film yang terkesan datar. Meski terkadang, sebagai suami-istri, Dae Hyun dan Ji Young masih meributkan hal sepele dengan mempertahankan ego masing-masing. Hal ini terlihat saat Dae Hyun menyatakan keberatan perihal Ji Young yang mengambil kerja paruh waktu. "Bahkan tak ada yang memintamu," kata Dae Hyun.

Bagi Ji Young yang semula adalah wanita karir kemudian hidupnya berubah drastis menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, kehidupan ini membuat dia merasa hampa karena hanya bisa mengandalkan penghasilan suami. Dulu saat Ji Young masih bekerja di agensi kehumasan, Team Leader Kim adalah sosok wanita ideal di mata Ji Young karena berani menyampaikan gagasan. Tetapi pada masa itu, Korea Selatan sangat kental dengan budaya patriarki sehingga pekerja perempuan harus diberhentikan ketika hamil.

Latar belakang keluarga Ji Young sendiri cenderung lebih mengistimewakan kaum laki-laki daripada perempuan. Hal ini terlihat dari adegan Mi Sook, ibu Ji Young, harus meminta maaf kepada neneknya karena telah melahirkan anak perempuan. Parahnya nenek Ji Young berkata bahwa anak laki-laki lebih menguntungkan karena bisa bekerja dan cari uang. Itulah sebabnya mengapa sedari kecil, Ji Young bertekad untuk berkarir dan menjadi mapan padahal cita-cita yang sesungguhnya adalah menjadi penulis.

Kim Ji Young, dulunya pegawai kantoran sebelum menikah.


Saat masih jadi pelajar, Ji Young pernah dibuntuti oleh murid laki-laki hingga ke dalam bus, yang membuatnya terpaksa harus meminta tolong kepada penumpang lain agar turun bersamanya. Perilaku stalker atau membuntuti ini rentan mengarah pada pelecehan. Ketika sang ayah mengetahui hal ini, bukannya membela dan menenangkan anak, ia malah menyalahkan perilaku anaknya sendiri yang terlihat lemah sebagai alasan pelaku kejahatan mengincar Ji Young.

Kemudian saat Ji Young menginap di rumah mertua, konflik tak ada hentinya. Sebagai seorang menantu, Ji Young tidak bisa tidur nyenyak karena ibu mertuanya bekerja di dapur sendirian. Dengan mengorbankan waktu tidurnya, Ji Young pergi ke dapur membantu ibu mertua. Lalu ibu mertua tidak menyukai sikap Dae Hyun yang membantu istrinya mencuci piring, karena bagi si ibu, dapur merupakan wilayah kekuasaan perempuan. Berbagai guyonan dan sindiran keluar seolah menyudutkan posisi Ji Young, sehingga ia pun berontak kepada mertuanya. Dae Hyun terpaksa harus membopong Ji Young keluar karena tak mau konflik menjadi berkepanjangan.

Sebagai seorang suami yang perhatian, tentu saja Dae Hyun merasa istrinya sedang kurang sehat. Ia mendatangi psikolog tapi tetap saja, harus istrinya yang datang langsung. Pada awalnya Ji Young menolak menjalani terapi karena biayanya mahal. Tapi, yang namanya tekanan mental, lama kelamaan bisa meledak pada waktunya saat tidak mendapat pertolongan. Ji Young kehilangan dirinya, berbicara dan berperilaku seperti orang lain.

Gong Yoo berperan sebagai Jung Dae Hyun, suami Kim Ji Young.

Dae Hyun sedih dengan kondisi istrinya, bahkan ia sampai menyiram rekan kerjanya dengan kopi karena mengatakan penderita kelainan jiwa harus dipasung dan dikucilkan dari masyarakat. Lalu ia meminta Mi Sook, ibu mertuanya untuk melihat kondisi Ji Young. Dan memang benar saja, Mi Sook merasa bahwa metode pengasuhan yang ia gunakan selama ini (yang lebih mengistimewakan laki-laki) nyaris membuat Ji Young menjadi cangkang kosong.

-------------------------------------------------

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi 'gila', dan itu bisa saja berasal dari latar belakang keluarga, lingkungan, dan tekanan ekonomi. Semuanya bercampur jadi satu menjadikan Kim Ji Young, Born 1982 sebagai film bertema feminis yang memperlihatkan sisi gelap dalam diri perempuan. Tak heran kalau film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Cho Nam Jo ini sempat menuai kontroversi sebelum ditayangkan. Alasannya karena pembaca laki-laki merasa bahwa cerita ini membuat kaum pria seolah-olah terlihat sebagai penindas, pada kenyatannya pria dewasa di Korea Selatan harus mengikuti wajib militer sedangkan perempuan tidak.

Yang disampaikan oleh film ini kurang lebih:

  • Sistem patriarki (lebih mengunggulkan laki-laki) membuat wanita merasa tidak utuh, kehilangan identitas, dan kesempatan berkarir.
  • Tekanan yang dialami seorang ibu rumah tangga lebih berat dibanding pegawai kantoran.
  • Peran suami tak hanya berhenti pada tanggung jawab finansial dan mengasuh anak bergantian, tapi juga perlu berbicara dengan istri lebih sering.
  • Berusaha membuka diri pada orang-orang yang sering kamu jumpai, jangan terus-terusan menjadi pendengar, kalau bisa kamu juga harus aktif bicara.
  • Ketika kamu merasa kesepian dan kelelahan, belajar untuk bersikap 'bodo amat' pada hal-hal sepele di sekelilingmu, lalu fokus melakukan apa yang kamu sukai.


Terlepas dari kontroversi yang ada, saya merasa memang harus ada film yang menyuarakan pentingnya menjaga kesehatan mental. Mungkin ini sebabnya mengapa Kim Ji Young, Born 1982 menjadi box office di negaranya melebihi Joker. Daripada berlomba-lomba menikah dan memiliki keturunan, terlebih dulu kita harus mencerdaskan otak dan menyehatkan jiwa. Orang tua yang cerdas dan sehat secara psikologis akan membebaskan anak-anak mereka dari lingkaran toksik. Semoga.

Jika drama Go Back Couple memperlihatkan realita pernikahan (dan perceraian?) dengan dibumbui fantasi kembali ke masa lalu, maka drama Because This Is My First Life adalah versi penyelesaiannya karena mensejajarkan pandangan pria dan wanita dalam kehidupan berumah tangga. 

You Might Also Like

14 komentar

  1. well-written review!

    setuju dengan opininya. kita, men or women, terlebih dahulu harus mewaraskan diri secara jasmani dan rohani sebelum memutuskan untuk menikah. ini lebih baik daripada nantinya menciptakan lingkungan toksik bagi keturunan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bikin diri sendiri happy dulu, baru bisa bikin orang lain happy.

      Hapus


  2. Film yang mengkisahkan tentang kehidupan rumah tangga yang boleh dikatakan penuh intriks. Ditambah ada Dogma dari keluarga pria yang mengharuskan punya anak laki-laki ketimbang anak perempuan.😱😱

    BalasHapus
    Balasan
    1. pada masa itu, gak hanya di keluarga pria tapi keluarga wanita juga lebih mengistimewakan laki-laki. untungnya sekarang jaman sudah berkembang dan negara mulai memproklamirkan keseteraan gender walau belum sepenuhnya terwujud.

      Hapus
  3. Karena tinggal di daerah yang nggak ada bioskop, jadi nggak bisa nonton deh film ini. Tapi saya lagi baca novelnya, baru setengah sih karena memang alurnya cenderung datar, jadi saya agak bosan, hehe. Tapi pesan yang disampaikan bagus banget ya, menyuarakan sebagian kaum perempuan yang masih terdominasi patriarki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alurnya memang datar, cenderung membosankan, kalau gak ada Gong Yoo saya gak bakal nonton.

      Hapus
    2. Streaming saaayyy.
      Udah banyak sekarang, di drakor.id juga udah ada :D

      Hapus
    3. Nah itu tuh bocoran TKP udah ada hehe

      Hapus
  4. Saya udah lama banget ga ke bioskop, nonton di rumah aja lewat Netflix. Paling betah nonton film keluarga beginian kalo lagi istirahat, sambil ngemil dan ngeblog.
    Mbak Dewi kalo ngereview pinter banget, ngalir aja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penasaran pengen ikut nonton di Netflix, tapi pas buka aplikasinya harus masukin metode pembayaran credit card. Walaupun ada keterangan gratis uji coba 30 hari pertama, tetep aja saya takut kebablasan :)
      Hihi makasih mbak sering-sering berkunjung yaa :*

      Hapus
  5. Dalam kenyataannya kehidupan rumah tangga memang tidak jauh beda dengan apa yang digambarkan dalam film ini, beda - beda sedikit tapi esensinya sama, isinya cuma 'drama', setiap hari isinya cuma ngomong salah paham, ngomong - salah paham, gitu terus berputar - putar, tidak bisa dibayangkan jika saya ada di real kehidupan born 1982, beruntung saya terlahir sebagai manusia +62 yang selalu santuy dan mantai setiap hari ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, kehidupan rumah tangga bosannya bukan main. Tapi justru kalo pernikahan udah berjalan tahunan, hubungan suami istri akan memasuki fase 'menjadi teman'. Kita bisa bosan sama pasangan, tapi kita gak akan pernah bosan dengan teman.

      Hapus
  6. Nih film bikin kepo sampapi belain nonton sendiri dah :D

    Bagus sih, meski jujur filmnya bikin ngantuk hahaha.

    Saya suka, dari segi psikolognya, bagaimana dampak kehidupan ibu berpengaruh ke anaknya, dan bagaimana nasib kebanyakan wanita zaman sekarang, yang pada akhirnya harus ikhlas merelakan kerjaan di luar rumahnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film ini berkaitan banget ya sama kehidupan wanita jaman sekarang, masih ada bahkan ibu rumah tangga yang harus resign dari kerjaan demi memprioritaskan anak. Tapi menjadi ibu penuh waktu sama berharga-nya dengan menjadi wanita karir. Jika wanita karir dihormati karena menghasilkan uang dan menempati posisi berpengaruh, maka ibu rumah tangga disegani (bahkan ditakuti) karena menjadi multitasker sejati. Menjadi baby sitter, koki, laundry, bahkan manager keuangan dalam satu waktu.

      Hapus

Halo, saya Elsa! Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya.
Saya akan senang jika kamu mau berbagi pendapat di kolom komentar.
Setiap komentar yang masuk akan saya usahakan balas secepatnya!