Minimalis, Hidup Bahagia dengan Beberapa Benda

Februari 09, 2020



Berawal dari e-book Good Bye, Things: Hidup Sederhana a la Orang Jepang karya Fumio Sasaki, saya jadi terinspirasi untuk mengikuti gaya hidup minimalis. E-book tersebut saya temukan di Google Play Store pada smartphone android, namun kamu harus memasang aplikasi Google Kios terlebih dulu agar bisa membaca e-book. Selain berupa e-book, buku tersebut juga sudah ada bentuk fisiknya di toko buku Gramedia.

Selama ini saya berpikir bahwa tren minimalis adalah gaya hidup orang-orang elit, karena semua furnitur yang dipamerkan terkesan mahal tapi multi-guna. Paling tidak, perumahan kecil dengan tipe dua kamar sekelas PNS* baru bisa disebut minimalis. Tapi ternyata, saya salah, Pemirsa!

*Pegawai Negeri Sipil 


Apa sih, 'Hidup Minimalis' itu?


Definisi dari hidup minimalis sesungguhnya yaitu 'hidup hanya dengan beberapa benda'.

Fumio Sasaki, seorang penulis, dulunya sering merasa minder karena selalu membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Kemudian suatu hari ia menyadari, betapa selama ini ia sumpek dengan appartement yang dipenuhi banyak barang padahal setelah dipikir-pikir semuanya tidak benar-benar penting. Jadi ia mengeluarkan semua barang-barang, termasuk koleksi buku dan CD, hingga menyisakan apa yang paling ia butuhkan.

Appartement yang ditempati Sasaki dulunya dipenuhi banyak barang.

Setelah menerapkan gaya hidup minimalis, appartement terasa lebih luas.



Setelah menjadi seorang minimalist selama 4-5 tahun, Sasaki merasa lebih bahagia, pengeluaran lebih terkendali, bahkan berat badan ikut terjaga. Apakah Sasaki berhasil menjadi minimalist karena ia seorang penulis, yang mayoritas tidak terlalu sering keluar rumah?

Ternyata minimalism juga bisa diterapkan oleh orang yang sering bepergian. Kouta, seorang pria muda berjiwa petualang yang gemar berkeliling dunia mampu bertahan hidup mengandalkan barang-barang dalam satu ransel. Ia membagikan pengalaman traveling melalui blog pribadinya.

Dari tadi ngebahas bujangan terus, cowok sih enak karena gak perlu belanja skincare!

Tak Hanya Pria, Wanita Juga Bisa Menerapkan Minimalisme Meski Butuh Penyesuaian


Dear Ladies, saya pikir soal menerapkan hidup minimalis itu tentang bagaimana kita ingin memulainya. I was young, walau sekarang baru 27 tahun tapi udah punya anak. Betapa saya menyadari bahwa semasa single dulu, saya menghabiskan begitu banyak uang dan energi untuk membeli pakaian --yang pada akhirnya tidak saya gunakan semua. Pakaian-pakaian yang memenuhi lemari tak memberi saya apa-apa selain cucian yang bertambah.

Lalu, untuk skincare? Saya pun tidak munafik, sebagai penjual produk kecantikan, saya juga suka belanja skincare dan make up hingga memenuhi laci. Namun belakangan ini, setelah menghabiskan beberapa produk, saya beralih ke satu produk yang multi-guna. Seperti gel ekstrak lidah buaya yang bisa dipakai wajah, badan, bahkan rambut.

Kemudian, untuk ibu rumah tangga juga sebenarnya bisa lho, menerapkan hidup minimalis. Yamasan, seorang ibu yang serbabisa, membuktikan bahwa keluarga yang beranggotakan empat orang juga bisa menerapkan hidup minimalis. Kuncinya kekompakan, semua anggota keluarga harus paham bahwa semakin sedikit barang dibawa masuk ke rumah, maka semakin berkurang stress.

Cara Mulai Menerapkan Hidup Minimalis


Tak hanya sekedar membaca, saya pun ingin menerapkan karena buku tersebut semacam obat bagi saya yang merasa serba kekurangan. Padahal kontrakan saya terbilang sangat layak untuk tiga orang, bayangkan saja, dengan sewa 450.000 per bulan sudah termasuk listrik, saya bisa menempati rumah dengan dua kamar  a la perumahan PNS, tapi kok saya masih merasa rumah ini sempit?!

Selain membeli pakaian, ketika masih lajang dulu, saya juga menghabiskan uang (dan ruang) untuk membeli beberapa komputer. Saya pernah merasakan momen dimana bisnis saya meningkat pesat hingga memiliki 7 orang pekerja. 4 orang shift siang, 2 shift malam, dan 1 part-time. Kini semuanya menjadi terasa sunyi, hanya tersisa saya dalam kesendirian, terkadang saya rindu dengan kehangatan rekan-rekan kerja. Tetapi, roda terus berputar. Saya ingin meneruskan kembali cita-cita saya yang tertunda. Baca juga curhatan saya di tahun 2014, Masih Ingin Jadi Penulis?

  1. Keluarkan barang-barang yang tidak perlu. Dengan mengeluarkan barang-barang yang tidak benar-benar penting, kita tidak hanya mengurangi stress, tapi juga membuat ruangan lebih luas! Apa yang masih laku dijual, jual saja tapi jangan terlalu mengharap nilai tinggi. Sisanya sumbangkan pada siapa saja yang bersedia menampung. 
  2. Tahan diri untuk tidak membeli barang baru lagi. Konsep dari hidup minimalis adalah 'hidup seadanya', kalau barang yang kita beli hanya memuaskan rasa penasaran, lebih baik alihkan perhatian dengan mencari kesibukan. 
  3. Mulai beralih ke barang-barang multi-guna. Setelah mengeluarkan banyak barang, tentunya ruangan menjadi lebih luas dan tersedia untuk barang baru. Disinilah godaan semakin terasa! Daripada membeli sabun dan sampo terpisah, beli saja satu buah cairan pembersih yang bisa dipakai ke badan sekaligus rambut. 
  4. Ciptakan 'seragam' untuk diri sendiri, seperti Steve Jobs. Memiliki sedikit pakaian namun bisa serasi dalam berbagai jenis acara, akan membuat kita lebih praktis karena tidak perlu berpikir baju mana yang mau dipakai. 
Memiliki hanya beberapa item pakaian di lemari.

Sebenarnya masih banyak syarat mutlak menjadi seorang minimalist, karena gaya hidup minimalis itu ternyata ada aliran garis keras-nya! Akan saya simpan topik bahasan ini untuk membuat posting di lain waktu. 
Saya juga pengen bikin daftar barang-barang apa saja yang mau saya keluarkan dari hidup saya kontrakan, barangkali ada yang mau nampung. Tapi lagi nyiapin nyali dulu, takut dikira lagi bangkrut/kelilit hutang hehe :)

You Might Also Like

14 komentar

  1. Kayaknya saaya butuh buku ini. Pengalaman setiap pindah tugas, barang2 banyak yang ternyata tidak berguna dan akhirnya dibuang. Beberapa dibagi2 aja ke teman2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selagi masih ada yang mau nampung bagus diberikan. Bisa bermanfaat untuk orang lain.

      Hapus
  2. Kalau pernah mendengar tentang Falsafah Janteloven, mungkin akan paham bahwa kehidupan sederhana bisa mendatangkan rasa bahagia. Tengok saja laporan World Happiness Report 2018 lalu. Tiga peringkat teratas adalah negara Skandinavia: Finlandia jadi pemuncak, salah satu negara yang katanya orang2nya menganut falsfah janteloven

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mirip-mirip tren minimalis ya, pada akhirnya yang membuat kita bahagia adalah konsep kesederhanaan. Saya perlu belajar banyak.

      Hapus
  3. Salah satu yang harus dikeluarkan mungkin kenangan mantan..😁

    Kalo di kontrakan mungkin cocok gaya hidup minimalis karena agak terbatas, selain bisa menghemat pengeluaran juga bikin ruangan jadi lega.😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya dong ntar malah gak bisa move on
      Banyak juga kok yang nerapin konsep minimalis ketika membangun rumah sendiri atau membeli appartement, jadi memang bisa diterapkan oleh siapa saja asalkan niat :)

      Hapus
  4. waktu saya ke jepang dlu, orang orang ny sangat cekatan banget. tpi utk gya minimalis ya emang terlihat jelas hehe
    tidak bnyk yg mreka pamerkan dan punya.. kamar ny pun apa adanya banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya sudah budaya orang jepang untuk menerapkan gaya hidup minimalis secara turun temurun. contohnya, kasur gulung adalah kebutuhan dasar bagi orang jepang karena bisa dimasukkan ke lemari saat tidak digunakan.

      Hapus
  5. Menarik. Sepwrtinya dengan gaya ini kita juga bisa punya waktu yang lebih banyak. Daripada sekadar dihabiskan untuk beres-beres terus dan sehari dua hari udah berantakan lagi wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar. Sejak menerapkan minimalis dari segi berpakaian, saya merasa lebih praktis. Setiap mau bepergian, gak perlu mikir mau pake baju apa, tinggal langsung comot. Cucian jadi lebih sedikit, lebih singkat waktu mencuci, lebih hemat pengeluaran beli detergen.

      Hapus
  6. aku tuh pengen banget bisa menerapkan hidup minimalis gini, tp blm bisa. hhuhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo saya dimulai sedikit-sedikit, dari cara berpakaian. lama-lama jadi betah karena praktis.

      Hapus
  7. Pengen ih, saya benci banget ruangan terlihat penuh dengan barang.
    Pengennya cuman ada barang-barang yang dibutuhkan saja.
    Tapi ya gitu, hidup dengan orang yang ortunya suka sayang barang itu rempong hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo saya suka stress ngeliat barang numpuk, kadang sampe gak nyentuh komputer sama sekali gara-gara ngebersihin terlalu banyak yang kena debu.

      Hapus

Halo, saya Elsa! Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya.
Saya akan senang jika kamu mau berbagi pendapat di kolom komentar.
Setiap komentar yang masuk akan saya usahakan balas secepatnya!