Ketika Saya Mulai Hidup Minimalis (Part II)

Maret 19, 2020



Setelah menjual beberapa benda yang sudah tidak terpakai, uangnya dipakai pindahan. Barang-barang kecil seperti kipas angin, setrika, jam dinding saya berikan ke tetangga secara cuma-cuma karena saya tak ada waktu memperbaikinya. Kecuali untuk komputer yang rusak, pada akhirnya tidak jadi dijual, karena ada teman satu kota yang bersedia memperbaiki dan mempergunakan untuk keperluan bisnisnya, dan suatu saat akan dikembalikan ke saya.

Baca juga postingan sebelumnya: Ketika Saya Mulai Hidup Minimalis (Part I)

Memang ada bagusnya juga komputer tidak jadi dijual, supaya kalau suatu hari nanti saya sudah siap melanjutkan bisnis, saya masih punya fasilitas karyawan. Saya beristirahat dari segala urusan pekerjaan dan hanya mengurus anak, tetapi anak saya cepat bosan bareng saya terus, dia mulai mendapatkan teman.

Daripada nganggur, saya perlahan-lahan mengikuti ritme rutinitas yang sempat terlupakan. Membalas chat, memeriksa konfirmasi pembayaran, mengurus orderan, dan sesekali ngeblog. Akhirnya saya sadar, bahwa saya tipe orang yang suka bekerja.

Di tempat tinggal yang baru, saya ternyata masih memiliki benda yang cukup memenuhi ruangan.

1. Meja Rias Kayu Solid



Sebenarnya meja rias ini model minimalis, karena tidak memakai banyak hiasan dan kursinya bisa dimasukkan ke kolong meja saat tidak digunakan. Tapi dengan memiliki meja rias ini, saya selalu terdorong untuk membeli banyak produk, yang mana sangat bertentangan bagi penganut minimalis. Kalau untuk sekedar berdandan, bagi saya sebuah cermin di dinding dengan rak tempel saja sudah cukup.

2. Kasur Busa


Saya memiliki 2 kasur busa yang dulunya dipakai untuk mess karyawan. Saya masih memikirkan kemana kasur ini akan dipindahkan, karena kalau dijual, orang tua tidak akan setuju. Lebih baik dipakai untuk fasilitas kost tetapi mungkin nanti setelah ada kamar yang kosong. Karena tempat kost yang dikelola ibu saya sudah penuh, dimana penghuni kost sudah memiliki kasur masing-masing. Kalau seandainya Raisa sudah besar dan memiliki kamar terpisah, saya lebih suka kasur gulung seperti yang digunakan orang-orang Jepang. Tujuannya agar bisa disimpan ke dalam lemari saat tidak digunakan, sehingga kasur bebas dari debu.

3. Kulkas


Ini adalah barang yang paling menghabiskan banyak ruang di gudang. Dulu saya asal-asalan beli kulkas, karena saya pikir semua kulkas sama saja. Ternyata setelah 5 tahun berumah tangga, kulkas yang saya beli ini terlalu besar untuk ukuran dapur minimalis. Saya membayangkan jika seandainya saya hidup sebagai single mom dan membesarkan seorang anak, kulkas mini yang bisa ditaruh di kolong meja dapur sudah cukup. Toh, ngapain juga saya menyimpan persediaan terlalu banyak kalau saya tidak punya karyawan.

4. Stabilizer


Biasanya stabilizer ini berguna untuk menjaga agar aliran listrik tetap stabil sehingga peralatan elektronik lebih awet. Mungkin salah saya dulu membiarkan stabilizer ini begitu saja, sehingga saat kejadian listrik mati mendadak, komputer rusak semua. Ya sudahlah, mungkin suatu saat nanti akan berguna jika saya meneruskan usaha kembali.

5. Hub


Fungsi hub ini dulunya sebagai lalu lintas kabel LAN kepada setiap komputer. Tetapi karena sekarang komputer sudah dipasang penangkap wi-fi, jadinya hub beserta kabel-kabelnya tidak lagi dibutuhkan. Sejauh yang saya ingat, hub ini sebenarnya barang mantan sih, tetapi dia pergi bukan dengan cara yang baik sehingga saya kesulitan mengembalikan barang ini. Alamat rumahnya pun saya tak tahu, meski 2 tahun pacaran dan janji menikah, tapi tidak pernah dipertemukan ke orang tuanya. Saya tidak mau menghubungi dia, boleh jadi karena saya takut, dia pernah melakukan pelanggaran privasi yang serius.

6. Printer Canon Pixma iP700


Sewaktu saya butuh printer, saya ditawari printer jadul ini dan tanpa menawar saya beli. Sayangnya, printer ini sering bermasalah. Karena kepepet mengurus orderan, saya beli printer baru. Jadinya ya begitu deh si printer lama terlantar begitu saja, padahal kalau dijual atau diberikan cuma-cuma kepada orang yang membutuhkan, niscaya akan lebih bermanfaat. Nah salah saya itu dulu gak pernah punya waktu untuk mengelola barang-barang elektronik, sepertinya jika sudah kembali berbisnis, saya akan menyempatkan sebulan sekali untuk mengelola perabotan.

Perjuangan hidup minimalis seperti tak ada habisnya, karena terasa berat di awal-awal. Dari menuliskan daftar benda-benda ini saya jadi bisa mengevaluasi bagaimana bisnis saya berjalan dari tahun ke tahun, dimana letak kesalahan saya dan apa rencana saya selanjutnya agar setiap barang yang saya beli bisa dipergunakan maksimal. 

You Might Also Like

19 komentar

  1. Semenjak kena dampak banjir, saya baru sadar akan perlunya hidup minimalis. sesuai yang dibutuhkan.
    Printer saya tenggelam, termasuk stabiliser. akhirnya jadi barang rongsokan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Turut berduka cita atas musibah banjir yang menimpa.

      Hapus
  2. Hidup minimalis yang semakin terkonsep ya mb elsa
    Dari sekian barang yang di list, kasur busa saya juga ternyata banyak mengoleksi, tapi klo saya lebih parahnya ada ranjang gedenya yang ternyata semakin bikin rumah kelihatan sempit hiks
    Wah ternyata mb elsa ada kosan juga, keren juga tuh

    Nah kalau kulkas, sepertinya ini nih yang saya belum bisa lepas dari kulkas, maklum pengabdi minuman dingin xixixi

    Sedangkan printer, saya sih lebih suka yang sepaket ada scanannya..hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah bikin ranjang dari kayu, tapi karena hasil kerjaan tukang kayunya kurang rapi, jadi cuma terpakai beberapa bulan udah rusak. Apalagi setelah melahirkan, saya pikir lebih aman tanpa ranjang supaya ketika bayi mulai merangkak gak khawatir jatuh. Akhirnya saya bongkar tuh ranjang dan sayangnya dibuang..
      Gpp mbak kulkas emang kebutuhan. Yang jadi masalah, ukuran kulkasnya yang kegedean wkwkwk..
      Saya juga rencana pengen beli printer plus scanner, tapi mahal, hiks..
      Jadi ya sudahlah, beli yang murah dulu sesuai kemampuan.

      Hapus
  3. hidup ga aapa minimalis, yg penting semua kebutuhan cukup hehe kere.

    BalasHapus
    Balasan
    1. motivasi sebenarnya karena pas-pasan sih, haha, dan biar lebih bersyukur aja.

      Hapus
    2. suatu hal yang kadang kita lupa juga ya mba, utk slalu bersyukur. bener banget

      Hapus
  4. Memang perlu ya, Teh hidup minimalis itu, selain terlihat lebih menarik jadi gak berantakan juga. Seperti halnya aku harus banget, karena ruang kamar kos yang gak bebgitu besar mengharuskan aku lebih minimalis dan simpel untuk penyimpanan barang-barang di kos..he

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk kamar kost disarankan pakai kasur gulung, supaya ketika tidak dipakai, bisa dimasukkin ke lemari, kan jadi lebih leluasa kalau sewaktu-waktu harus bekerja di dalam kamar. gunakan rak-rak tempel di dinding, terutama rak sudut, berguna banget nyimpen barang-barang biar gak berantakan dan gampang dicari.

      Hapus
  5. Kalau saya yang bikin habis space ruangan tuh barang rongsokan deh :(
    Pak su itu suka banget nyimpan barang yang sebenarnya udah nggak dipakai, atau jaraaanggg banget dipakai, digeletakin gitu aja di dapur, di depan, makanya parno banget waktu ada ular kemaren :(

    Terus saya punya oven gede yang akhirnya gagangnya hancur dimakan udara kayaknya jadi keropos, perlengkapan bikin brownies, duh menuhin dapur saja hahaha.

    Btw kangen ih sama printer pixma, dulu pernah punya dan menemani saya bertahun-tahun, giliran dipinjam teman, langsung rusak huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diperbaiki saja mbak kali aja masih berguna. Kalo saya kendalanya malas misah-misahin barang, bener-bener nyita waktu.
      Printer pixma kalo jaman sekarang udah gak ada yang mau kayaknya, ini juga mau saya jual ke bandar rongsokan.

      Hapus
  6. Wahhhh sama nihhh ak juga lagi menerapkan hidup minimalis banget, kadang pake barang yang dipake aja.. Barang barang yang gak kepake udah ak jual dan donasiin ke tempat lain.. Jadi gak numpuk dirumah, dan mau kemana mana juga gak repot, apalagi kalau misal pindah rumah atau mau berliburan gitu hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap mas, semoga kebiasaan hidup minimalis-nya tertular ke orang lain, karena sampah-sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir bisa berasal dari barang-barang yang dibeli tanpa pertimbangan matang.

      Hapus
  7. Menjual barang-barang rusak memang pilihan yang tepat mbak, daripada memenuhi rumah. Syukur-syukur kalau bisa diperbaiki.
    Barang-barang yang jarang terpakai mungkin bisa dihibahkan kepada teman/orang yang lebih membutuhkan barang tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, dengan begitu ruangan jadi terasa lebih luas, karena barang-barang yang dimiliki hanya yang digunakan saja.

      Hapus
  8. Mumpung masih sendiri.. pengalaman-pengalaman teman-teman blogger dalam mengurus rumahtangganya bisa saya jadikan pegangan.. Salam Jumpa Lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sudah ketemu jodohnya jangan lupa kirim undangan ya..

      Hapus
  9. Lumayan jg harta gono gininya nih. Sampe pny stabilizer tuh cwo banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, masa iya sih? Itu juga jarang dipakai.

      Hapus

Halo, saya Elsa! Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya.
Saya akan senang jika kamu mau berbagi pendapat di kolom komentar.
Setiap komentar yang masuk akan saya usahakan balas secepatnya!