Orange Steak Culture Tasikmalaya, Tempat Makan yang Romantis

Foto pendukung diambil dari googlemaps/orangesteakculture

Saya pernah berkencan dengan seorang pria selama sebulan. 

Dia bilang, "Romantis itu kita sendiri yang ciptakan." 

Tapi setelah dia pergi, kalimat itu tidak berarti apa-apa. Dan tahukah kalian, cara MOVE ON paling ampuh adalah dengan menjadi romantis pada diri sendiri! 

Oke, tak apa jika kamu mencampakkanku. Tapi sebagai wanita berdaya, aku punya kemampuan untuk menciptakan suasana romantis. Aku mencintai diriku, aku berharga, dan aku suka makanan enak! Food is my happiness!

Tempat Makan Steak di Tasikmalaya



Orange Steak Culture adalah salah satu restoran steak terkenal di Kota Tasikmalaya. Lokasinya berada di dekat pusat kota dan dikelilingi oleh hotel-hotel. Wisatawan dari luar kota yang kebetulan singgah pasti bisa menemukan tempat ini karena berjarak dekat dengan akomodasi. Meskipun berada di pinggir jalan, suasana yang didapat justru lumayan tenang. 

Dari luar, tampak bangungan Orange Steak Culture Tasikmalaya memakai lampu dekorasi gaya Belanda, dengan pemilihan warna putih dan abu-abu pada eksterior. 

Menurut pengalaman saya, restoran ini terbagi menjadi 5 ruangan, yaitu:

Outdoor, di bagian teras depan. Menyediakan tempat duduk untuk berdua. Furnitur yang digunakan bertema minimalis, karena memang space-nya tidak terlalu besar. Selain itu ada unsur hijau dari tanaman untuk menciptakan ilusi lebih luas.

Ruangan inti, konsepnya seperti ruang tamu dengan furnitur kayu. Disini pengunjung bisa membawa keluarga, mengadakan reuni, atau kumpul-kumpul acara kantor. Tak jauh dari ruang inti, ada pojok barista.

Ruangan pojok, bentuknya seperti lorong namun cukup luas dan sinar matahari bisa masuk. Tema ruangan coklat, menciptakan mood yang hangat. Disini tempatnya anak-anak muda ngerumpi.

Ruangan belakang, dekat tangga. Disini pengunjung boleh merokok karena semi outdoor. Ruangan ini seperti halaman belakang rumah, ada kolam ikan hias. Cocok banget lho kalau kamu mau makan malam yang romantis seperti di drama korea.

Lantai atas, buat yang jarang olahraga mesti naik turun tangga. Hahaha.

Outdoor Teras Depan




Sudah bukan rahasia lagi kalau acara makan di luar tuh pasti rata-rata dipakai tempat curhat, apalagi foto-foto. Untuk restoran Orange Steak Culture ini, bagian outdoor menggunakan kursi dan meja bertema minimalis. 

Furnitur yang digunakan kecil dan transparan, namun cukup kokoh. Berkat adanya tanaman yang mengelilingi area, kualitas udara cukup baik, sehingga tidak perlu khawatir akan polusi dari jalan raya. Lagipula, Jalan Raden Ikik Wiradikarta selalu sepi di hari-hari biasa, hanya ramai di saat weekend.

Menu yang dipesan:

  • Sirloin Steak ala Orange Rp 44 ribu
  • Banana Split Rp 25 ribu
  • Ice Tea Rp 8 ribu

Saya menjadikan steak sebagai makanan utama, banana split sebagai dessert, dan minumnya es teh manis. Bagaimana rasanya?

Sirloin Steak ala Orange



Untuk steak yang dipesan, harga segini nggak dapet hot plate terbilang mahal, sih. Karena kalau di foodcourt mall, steak dengan harga di bawah 30 ribu sudah disajikan dengan hot plate. Menyantap steak ketika saus masih dalam keadaan mendidih adalah kepuasan tersendiri. Namun, untuk memesan steak dalam hot plate, pengunjung harus mengeluarkan budget lebih. 

Dalam satu porsi steak terdapat daging dilapisi crispy, saus jamur, kentang goreng, dan sayuran. Rasa dari steak-nya lumayan enak, meski kurang menyehatkan karena digoreng. Saus jamurnya juga enak sih menurut saya. Sayangnya, kentang goreng yang saya dapat tidak diberi taburan peterseli seperti di gambar. Untuk sayurannya juga terbilang pelit, tidak menggunakan jagung seperti di gambar.

Banana Split



Untuk menu dessert, saya suka. Banana Split adalah potongan pisang yang diberi topping es krim, meses, dan cha-cha. Ini lumayan mengenyangkan lho, pas banget kalau lagi malas makan tapi pengen ngemil. Kualitas buah pisangnya juga tidak sembarangan, sesuai dengan harganya. Menu dessert ini bisa dibilang ramah anak.

Terakhir, es teh manis yang saya pesan juga terbilang standar untuk harga restoran. Menggunakan gelas plastik dengan gula cair agar penyajian jadi lebih cepat. Ketika kamu memesan minuman, maka es teh manis ini adalah jenis minuman yang paling cepat disajikan. Minusnya, disini tidak ada air mineral.

Jadi kalau tujuan saya makan, maka saya hanya tertarik pada makanannya. Air putih lebih menyehatkan. Kalau tujuannya untuk sekedar ngobrol atau nongkrong, baru disitu saya pesan minuman yang aneh-aneh, seperti kopi misalnya. 

Itu aja sih review Orange Steak Culture Tasikmalaya yang bisa saya tulis. Secara keseluruhan, tempat ini cocok untuk dijadikan makan malam romantis atau menjadi destinasi bagi penggemar steak. Kamu harus menyediakan budget minimal 100 ribu per orang. Bisa bawa pacar, sahabat, selingkuhan di kantor, simpanan gelap di FB, asal jangan laki orang.

Orange Steak Culture 

  • Reservasi 0878-3655-5553
  • Jumat 13.00 s/d 23.00
  • Sabtu-Kamis 11.00 s/d 23.00
  • Jl. R. Ikik Wiradikarta No.53, Tawangsari, Kec. Tawang, Tasikmalaya.



Untuk mantan yang missed call jam 12 malam, selamat tinggal! Aku sudah punya yang baru.

Posting Komentar

13 Komentar

  1. Wah, mantap juga steaknya. Tapi saya bukan tipe orang yang sanggup menyantap masakan ketika masih mendidih, meski cuma saosnya. Hmm, lidah saya ngga tahan.

    Jadi, apakah romantis bisa dilakukan sendirian, atau mesti bawa teman,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya punya kebiasaan menyantap makanan ketika masih panas, sampe harus pakai gigi palsu.. hihi

      Romantis itu dimulai dari diri sendiri, maka orang lain akan tergoda untuk masuk ^^

      Hapus
  2. duh ngiler nih, steaknya gede banget saosnya menggodaaa.. tempatnya juga bagus ya

    BalasHapus
  3. Tampak di foto ruang outdoor-nya cukup nyaman.
    Di saat pandemi ini saya kalau ke restauran lebih memilih yang punya ruang outdoor atau yang dindingnya open.

    BalasHapus
    Balasan
    1. di area yang terkena sinar matahari cukup apalagi rutin dibersihkan, peluang virus corona bertahan lebih kecil.

      Hapus
    2. Tapi ruang tertutup yang ber-AC cenderung menghindar sinar matahari.

      Hapus
    3. menurut saya kalo ruangan ber-AC yang bertutup, sesekali perlu dimatiin AC-nya lalu buka jendela supaya sinar matahari bisa masuk.

      Hapus
    4. Waduh.... saya sebagai pengunjung gak enak donk asal matiin AC trus buka jendela. Bagaimana jika tamu meja sebelah beda selera? Bisa ribut nih...

      Hapus
  4. Aku JD penasaran steak sirloinnya berapa gram mba? Murahnya banget bangettttt :). Aku ga pernah Nemu steak hrg segitu di Jakarta :D.

    Tapi jujur kalo makan steak, aku ga akan mau pake hot plate. Krn level kematangan kalo pesan steak, aku wajib medium rare, untuk menjaga juicy dari daging ttp ada. Welldone aku ga akan mau makan Krn pasti dagingnya JD kering :).

    Sementara kalo di taro di hot plate, dagif pasti JD welldone kamar2 :). Itu kenapa aku selalu minta steakku di sajiin di atas piring, dan hrs medium rare. Kalo chef nya ga bisa membuat medium rare, itu pasti aku komplain :D.

    Ini tempatnya tapi bagus ya utk nongkrong santai :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga tau berapa gram hahaha, tapi kalo di Tasik biasanya kecil karena disesuaikan dengan daya beli masyarakat. Maklum Tasik belum jadi kota besar, meski sudah banyak tempat wisata dan kuliner yang menarik untuk dikunjungi.

      Kalau level kematangan medium rare, dagingnya terasa lebih empuk. Sepertinya disini juga bisa request mengingat banyaknya penggemar steak yang berkunjung.

      Hapus

Halo, saya Elsa! Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya.
Saya akan senang jika kamu mau berbagi pendapat di kolom komentar.
Setiap komentar yang masuk akan saya usahakan balas secepatnya!