Review Drama My Name, Sisi Baru Han So Hee yang Gelap dan Brutal


 

Kalau kamu pernah nonton drama The World of The Married, maka pasti nama Han So Hee sudah tidak asing karena disana ia berperan sebagai seorang pelakor bernama Yeo Da Kyung. Gak tanggung-tanggung, aktris kelahiran 1994 itu beradegan mesra dengan aktor yang berbeda selisih 18 tahun lebih tua. Drama makjang tentang perselingkuhan itu membuat netizen baper dan menghujat So Hee di akun instagram pribadinya, @xeesoxee. 


Setahun kemudian, So Hee mendapat peran sebagai Yoo Na Bi di drama Nevertheless. Kembalinya So Hee ke dunia hiburan membuat netizen penasaran, apalagi ia menjadi lawan main Song Kang yang telah populer lewat drama Sweet Home dan Love Alarm 2. 


Sayangnya, drama tersebut mendapat rating rendah (1-2 persen tiap episode). Pola hubungan toksik menjadi alasan kenapa Nevertheless ditinggalkan, padahal Korea Selatan sedang gencar-gencarnya berkampanye kesehatan mental. Selain itu, karakter Yoo Na Bi terkesan menye-menye dan labil seolah memberi lampu hijau bagi predator seksual.


Meski Nevertheless tidak sesukses The World of The Married, penonton sudah mulai lupa dengan Yeo Da Kyung si pelakor. Sehingga Nevertheless ini bisa dibilang adalah batu loncatan bagi So Hee untuk menciptakan karakter baru yang kejam, beringas, badass dan belum pernah saya temukan di dunia per-drakor-an. Inilah, review drama My Name.


Alur Cerita Drama My Name


Sebelumnya saya ingatkan dulu bahwa tulisan ini berisi spoiler. Jika kamu tipe orang yang mudah hilang rasa penasaran gara-gara spoiler, saya sarankan nonton dramanya dulu. Biar bagaimanapun juga, menonton drama atau film secara utuh akan memberi pengalaman yang jauh lebih baik. 


Berawal dari Kematian Ayah





Yoon Ji Woo (Han So Hee) memiliki hubungan yang tidak baik dengan ayahnya, Yoon Dong Hoon. Tidak diceritakan kehadiran sosok ibu di drama ini, sehingga Ji Woo membenci ayahnya yang jarang pulang. Ia terbiasa menghadapi polisi yang menanyakan keberadaan sang ayah, belum lagi teman-teman di sekolah bergurau “Ji Woo anak dari buronan pengedar narkoba”.


Untuk usia remaja, Ji Woo mendapat tekanan sosial yang berat dari orang-orang di sekelilingnya. Keterbatasan uang dan makanan adalah masalah sehari-hari yang dihadapi sendirian, sehingga Ji Woo berharap ayahnya mati saja. Maka tibalah saatnya, hari terakhir kali bertemu sang ayah. 


Ji Woo menemukan jenazah ayahnya di depan pintu rumah.


Penyesalan, amarah, rasa kehilangan dan sedih bercampur aduk. Tidak ada saksi, bukti, ataupun jejak si pembunuh. Satu-satunya petunjuk hanyalah sosok misterius yang tertangkap kamera CCTV di sekitar gedung apartemen. Pihak kepolisian menutup kasus tersebut karena tidak ada bukti kuat. 


Bertekad untuk Balas Dendam


Sebelum jenazah ayahnya dikremasi, Ji Woo menyadari bahwa ayahnya memiliki tato - yang bermakna sebagai bagian dari organisasi Dongcheon. Choi Mu Jin (Park Hee Soon) adalah bos Dongcheon yang datang ke rumah duka untuk memberi penghormatan terakhir pada mendiang Yoon Dong Hoon. Choi Mu Jin berkata bahwa ayah Ji Woo adalah satu-satunya sahabat sekaligus saudara baginya. 


Entah bagaimana, Ji Woo mendatangi markas Dongcheon dan menemui Choi Mu Jin. Di meja kerja Choi Mu Jin terdapat sebuah foto dimana ia dan mendiang Dong Hoon sedang tertawa. Hal itu membuat Ji Woo memberanikan diri untuk menemukan siapa pembunuh ayahnya. Namun, Choi Mu Jin mengusir Ji Woo yang lemah dan tidak punya cukup keberanian..


Menyadari bahwa Dongcheon tidak berpihak padanya, Ji Woo mencoba berusaha sendiri. Ia mencari-cari petunjuk namun malah diculik oleh segerombolan preman. Di saat berada dalam bahaya, Choi Mu Jin membebaskan Ji Woo. Sejak itulah Choi Mu Jin mengakui bahwa Ji Woo sudah punya cukup nyali untuk balas dendam atas kematian ayahnya.


Bergabung dengan Organisasi Rahasia




Ji Woo berkemas dengan membawa sedikit barang, termasuk abu dari jenazah ayahnya yang ditempatkan dalam sebuah toples keramik. Choi Mu Jin membawa Ji Woo ke pusat olahraga Dongchoen yang hanya berisi pria. Ji Woo harus berlatih agar fisiknya bertambah kuat, namun ia dianggap sebagai mainan oleh orang-orang disana. Ia sering dilecehkan bahkan hampir diperkosa oleh Do Gang Jae (Chang Ryul).


Choi Mu Jin sudah menduga bahwa hal itu akan terjadi, karena Ji Woo satu-satunya wanita yang berada disana. Namun Choi Mu Jin menutupi kasus tersebut untuk melindungi nama baik Dongcheon. Asisten pribadi Choi Mu Jin, Jung Tae Ju (Lee Hak Joo) mengumumkan bahwa Do Gang Jae dikeluarkan dari organisasi karena telah membunuh Ji Woo. 


Sementara itu, Ji Woo yang sudah babak belur mengobrol dengan Choi Mu Jin di sebuah kedai. Di Korea Selatan, tradisi minum soju adalah bagian dari obrolan penting. Biasanya para orang tua memberi tahu anak mereka cara minum alkohol ketika sudah cukup umur. Namun karena Ji Woo sudah menjadi yatim piatu, maka Choi Mu Jin yang mengajarinya cara minum soju. 


Choi Mu Jin memperlihatkan dokumen berupa kartu tanda pengenal dan riwayat hidup. Mulai saat itu, Yoon Ji Woo dianggap mati dan hidup dengan identitas baru sebagai Oh Hye Jin. Kini Hye Jin memiliki tato yang sama dengan ayahnya, karena hidupnya adalah milik Dongcheon.


Menjadi Mata-Mata di Kepolisian





Dengan berbekal identitas baru, Hye Jin mulai bekerja di kepolisian untuk menemukan pembunuh ayahnya. Choi Mu Jin membekali Hye Jin dengan pistol dan pisau. Pistol tersebut diyakini sebagai milik polisi yang menembak Dong Hoon, sehingga Hye Jin harus masuk ke kepolisian untuk menemukan pelaku. Sedangkan pisau adalah amanat dari Choi Mu Jin untuk membunuh pelaku langsung di tempat ketika sudah ketemu.


Awalnya Hye Jin bekerja di Satgas Kejahatan dan sering berselisih dengan Kopral Jeon Pil Do (Ahn Bo Hyun) dari Satgas Narkoba karena perbedaan cara kerja.

Berbeda dengan Hye Jin yang langsung gabres menangkap pelaku, Jeon Pil Do lebih penyabar dan menyiapkan strategi berbulan-bulan sebelum bertindak.


Hye Jin akhirnya diterima di Satgas Narkoba setelah melamar dua kali. Ia mengikuti jejak mendiang ayahnya yang dulu bekerja disana. Disinilah muncul pertanyaan, siapa sebenarnya ayah Hye Jin? Saya sendiri masih bingung toh, padahal sudah nonton sampai tamat. 


Gerak-Gerik Hye Jin yang Mencurigakan





Kembali pada cerita, sejak bekerja di Satgas Narkoba Hye Jin memanggil Pil Do dengan sebutan sunbae (senior). Pil Do menegur Hye Jin agar tidak bertindak sendirian ketika bertugas, kemudian ia juga mengajak juniornya minum soju untuk mendiskusikan hal itu. Hye Jin langsung menolak ajakan Pil Do dengan alasan sudah ada janji. Penolakan itu membuat Pil Do diledek oleh para anggota satgas, lumayan ada humornya sedikit karena sedari awal cerita sudah disuguhi banyak adegan kekerasan.


Pada malam harinya, Pil Do memergoki Hye Jin sedang mengintai. Ekspresi Hye Jin mencurigakan dan ia berkata sedang mengintai Do Gang Jae, mantan anggota Dongcheon yang mengedarkan narkoba. Gara-gara itu, bos Dongcheon Choi Mu Jin menjadi target utama kepolisian. 


Setiap malam Hye Jin harus melapor pada Choi Mu Jin tentang pergerakan polisi. Lama-lama hubungan mereka berdua menjadi dekat, sudah seperti ayah dan anak. Suatu ketika, Hye Jin memberikan sebuah botol berisi teh kamomil karena Choi Mu Jin kelihatan kurang tidur. Pengacara Choi Mu Jin, Kang Su Yeon (Baek Joo Hee) sampai heran kenapa seorang bos mafia membawa-bawa sebuah botol berisi teh. 


Kapten Cha Gi Ho (Kim Sang Ho) di satgas narkoba mulai curiga dengan Hye Jin. Sejak Hye Jin masuk, Choi Mu Jin bisa dengan mudah melarikan diri saat akan ditangkap. Cha Gi Ho memperingatkan Pil Do untuk berhati-hati karena bisa jadi Hye Jin adalah seorang mata-mata. Namun, Pil Do membantah hal itu. 


Pil Do sempat mengunjungi tempat tinggal Hye Jin karena khawatir. Saat itu, Pil Do sudah punya firasat bahwa Do Gang Jae dan Hye Jin saling kenal. Hye Jin berterus terang bahwa Do Gang Jae hampir memperkosanya di masa lalu dan memperlihatkan bekas luka di tangannya yang didapat ketika berusaha melarikan diri. Pil Do menyimpulkan bahwa alasan Hye Jin bergabung di satgas narkoba adalah untuk menangkap Do Gang Jae secara hukum.


Konflik Dualisme Oh Hye Jin dan Yoon Ji Woo


Keesokan harinya, Cha Gi Ho ditemukan sekarat di apartemennya. Terdapat barang bukti sebuah pisau dan ada sidik jari Choi Mu Jin. Otomatis seluruh anggota satgas mencurigai Hye Jin. Pada waktu bersamaan, Choi Mu Jin juga menyerahkan diri pada kepolisian untuk menguji Hye Jin. Disinilah adegan paling mendebarkan: Hye Jin sebenarnya berpihak pada siapa?


Hye Jin menginterogasi Choi Mu Jin dengan mengamati foto barang bukti. “Orang yang membocorkan informasi padamu, atau siapapun itu, tidak akan bisa membebaskanmu. Ada sidik jarimu di pisau ini, kami tidak butuh pengakuanmu.”


Ternyata, Hye Jin berpura-pura menginterogasi Choi Mu Jin untuk mencari tahu barang bukti. Keluar dari ruang interogasi, Hye Jin segera mengambil barang bukti dan membawanya kabur. Pengacara Kang Su Yeon menegaskan bahwa barang bukti sudah tercemar dan tidak ada alasan bagi klien-nya untuk berada disana. 


Pil Do benar-benar dibuat kecewa. Seisi satgas narkoba sudah mencurigai Hye Jin sebelum kasus penusukan Kapten Cha Gi Ho, Pil Do merasa tertipu karena bersimpati dan mempercayai seorang mata-mata. Pil Do bertekad untuk menangkap Hye Jin dengan tangannya sendiri. 


Rahasia di Balik Kematian Dong Hoon


Saat Hye Jin sedang kabur dari incaran polisi, ia mengingat kembali momen Cha Gi Ho ditusuk. Hye Jin datang sendiri untuk memastikan bahwa Cha Gi Ho adalah pembunuh mendiang ayahnya. Namun, Cha Gi Ho mengatakan sesuatu yang mengejutkan dan itu membuat Hye Jin sadar bahwa ia selama ini ditipu oleh Choi Mu Jin. 


Yoon Dong Hoon dulunya adalah seorang polisi bernama Song Jong Su. Cha Gi Ho mengirim Jong Su ke markas Dongcheon dengan identitas baru, agar tidak dikenali sebagai polisi. Akan tetapi setelah hidup lama di markas Dongcheon, Jong Su mulai ragu karena Choi Mu Jin menganggapnya sebagai sahabat sekaligus saudara.


Hye Jin merasa bahwa dirinya hidup sia-sia. Pistol yang ia dapat dari Choi Mu Jin  adalah milik polisi yang sudah meninggal sebelum kematian ayah. Penderitaan yang ia lalui selama di markas, ternyata tidak berbuah apa-apa karena pelaku pembunuh ayahnya adalah Choi Mu Jin sendiri.


Akhirnya, Pil Do berhasil menangkap Hye Jin. Seisi satgas narkoba juga memaki Hye Jin habis-habisan karena sudah membocorkan informasi. 


Cha Gi Ho yang sadar dari koma langsung menelpon Pil Do. Di rumah sakit, Cha Gi Ho menceritakan kejadian dirinya ditusuk di apartemen. Pil Do diberitahu bahwa Oh Hye Jin adalah Yoon Ji Woo, putri dari Song Jong Su atau Yoon Dong Hoon. Choi Mu Jin memanfaatkan kepolosan Ji Woo yang ingin balas dendam atas kematian ayahnya.


Mengetahui keadaan Ji Woo yang sesungguhnya, Pil Do langsung tergerak untuk menyelamatkan wanita itu. 


Mata-mata yang Berbelot


Pengacara Kang Su Yeon datang untuk membebaskan Ji Woo dan meminta perawatan medis. Pada saat berada di rumah sakit, Ji Woo mendapat kesempatan untuk kabur namun Pil Do tiba-tiba datang dan memaksa untuk terus bersama. 


Pil Do membawa Ji Woo ke sebuah rumah di tepi pantai yang disewa oleh temannya. Disana Pil Do merawat luka Ji Woo yang mengalami pendarahan. Pil Do juga berkata bahwa ia tidak ingin melihat Ji Woo menyakiti diri sendiri lagi. Untuk pertama kalinya, Ji Woo menemukan orang yang memahami rasa sakitnya selama ini. 


Mereka berdua sepakat untuk menangkap Choi Mu Jin secara hukum, bukan membunuhnya. Bahkan sekalipun Ji Woo harus menjalani hukuman, Pil Do akan selalu berada untuknya. 


Di lain tempat, Choi Mu Jin menemukan asisten pribadinya, Jung Tae Ju mati ditusuk pisau. Pisau yang tertancap di dada Tae Ju adalah milik Choi Mu Jin yang diberikan pada Ji Woo saat mulai memasuki kepolisian. Itu adalah pertanda bahwa Ji Woo sudah bukan lagi milik Dongcheon. 


Mengetahui Ji Woo berkhianat, Choi Mu Jin mengirim orang suruhan untuk menembak mati Pil Do di tempat. Ji Woo yang tadinya ingin menjalani hidup normal, kini berubah pikiran dan ingin membunuh Choi Mu Jin. Memasuki markas Choi Mu Jin tidaklah mudah, karena seluruh anggota Dongcheon sudah tahu bahwa Ji Woo berkhianat. Ji Woo harus menghadapi para pengawal yang berusaha menghalanginya, namun pada akhirnya ia tetap sampai juga di ruangan Choi Mu Jin. 


Sementara itu Choi Mu Jin memang sudah menunggu kedatangan Ji Woo. Adegan ini penuh dengan sentimental, dimana Choi Mu Jin sebenarnya sudah menyayangi Ji Woo dengan tulus. Drama My Name yang berjumlah 8 episode ini berujung pada perkelahian, dimana mereka berdua tidak akan menyerah sampai ada salah satu yang mati. Selesai. 






Jadi, apa pesan moralnya? 


Secara keseluruhan, saya menyimpulkan bahwa balas dendam itu adalah sesuatu yang sia-sia. Menghabiskan banyak waktu dan energi, yang sebenarnya bisa kita gunakan untuk hidup lebih baik. Ada kalanya seseorang bertindak karena emosi, seperti karakter Ji Woo yang tidak terima ayahnya mati sebagai buronan sementara pelaku tidak tertangkap. 


Namun, daripada masuk markas penjahat, bukankah lebih baik jika Ji Woo merelakan ayahnya yang sudah pergi lalu mendaftar sebagai polisi dan berbakti pada negara? Sayangnya, semua orang di sekeliling Ji Woo justru membuat polisi terkesan buruk seolah-olah tidak bisa menangkap pelaku pembunuh. Namun pihak polisi tidak bisa disalahkan juga karena dalam beberapa kasus, pelaku pembunuh bisa bertindak dengan rapi tanpa jejak.


Walaupun balas dendam itu sia-sia, saya puas banget menonton drama My Name. Karakter Ji Woo atau Hye Jin mengingatkan saya pada film mata-mata berjudul SALT. Di film tersebut, Angelina Jolie berperan sebagai Natasha Chenkov yang diselundupkan oleh mata-mata Rusia. Natasha datang ke kedutaan Amerika Serikat dengan identitas baru, Evelyn Salt lalu bekerja di Badan Intelijen Negara (BIN). Setelah bekerja di BIN, Evelyn berbelot dan memihak AS. 


Meski My Name dan SALT memiliki kemiripan dari penokohan dan unsur cerita, keduanya bisa dinikmati dengan cara yang berbeda. Han So Hee dan Angelina Jolie adalah para aktris yang sama-sama bersinar pada jamannya. Mereka berdua luar biasa.


Posting Komentar

0 Komentar